PESISIR BARAT (TirasTV.com) – Pengelola tambak udang milik CV. Johan Farm yang berada di Pemangku Kuta Khaja, Pekon Way Jambu, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, kembali bermanuver ditengah masyarakat, hal demikian terlihat dengan adanya pemberitaan yang mengatakan tambak udang sangat bermanfaat bagi masyarakat dan hampir seluruh karyawan tambak udang adalah masyarakat Kuta Khaja Pekon Way Jambu.
Pernyataan itu menuai reaksi keras dari tokoh masyarakat Kuta Khaja, karena suara-suara sumbang yang dilontarkan oleh pihak pengabdi tambak udang dinilai sebagai upaya adu domba dan penyesatan informasi.
Menurut M. Sapari selaku tokoh masyarakat Kuta Khaja sumber dalam perberitaan yang enggan disebutkan namanya, berarti oknum tersebut sedang berupaya menyesatkan masyarakat dengan menghembuskan informasi murahan.
Contohnya saja dikatakan hampir semua karyawan berasal dari masyarakat Kuta Khaja, bahkan sudah puluhan tahun menggantungkan hidup pada tambak udang, ini pernyataan yang menyayat hati masyarakat, seolah-olah masyarakat Kuta Khaja akan mati kelaparan tanpa adanya tambak udang tersebut, apakah ini tidak merupakan suatu pelecehan bagi kami, “Paparnya.
Ini salah satu indikasi masyarakat mengatakan jika keberadaan tambak udang mulai dari berdiri hingga beroperasi saat ini tidak banyak membantu dan tidak menguntungkan masyarakat, yang ada merugikan dan memecah belah ditengah kerukunan hidup bersama.
Dikatakan juga adanya bantuan dalam setiap kegiatan muda-mudi di Pemangku Kuta Khaja, dan membantu rehap masjid, sebutkan ada berapa puluh juta yang pernah mereka gelontorkan untuk itu, kalau cuma angka ratusan ribu tidak usahlah belagu, koar sana sini seolah-olah jadi donatur tetap bagi masyarakat, dengan adanya penyesatan informasi ini satu indikasi bahwa tambak udang milik CV. Johan Farm kurang bersahabat dan memble.
Pihak tambak udang juga dinilai berusaha mengadu domba antar masyarakat nelayan tradisional (nelayan pinggir), dengan masyarakat nelayan modern (nelayan tengah), itu ditandai dengan diedarkannya form dukungan tanda tangan seolah-olah masyarakat nelayan merasa tidak terdampak limbah tambak udang, namun yang dimintai dukungan tanda tangan dan dimintai tanggapan adalah nelayan labuhan yang sehari-hari melakukan aktivitas usaha ditengah bukan dipinggir, mungkin bener mereka tidak merasakan secara langsung dampaknya, akan tetapi bagi nelayan tradisional (nelayan pinggir) yang sehari-hari beraktivitas tanpa menggunakan perahu, mereka sangat merasakan dampaknya itu, mulai dari bau yang tidak sedap, menyelam susah karena berubahnya kejernihan air laut, hilangnya biota laut dengan berkurangnya hasil tangkapan, bahkan sampai timbulnya penyakit gatal-gatal, “Terangnya.
Harapan kami kalau ada masyarakat yang memang akan menjadi pahlawan tambak udang harus berani dong menampakkan diri, bicaralah yang lantang, jangan ngomong dibelakang, sampai-sampai dalam pemberitaan menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, itu artinya politik adu domba, sengaja menciptakan retaknya kerukunan hidup bermasyarakat.
Sekali lagi kami masyarakat Pekon Way Jambu menganggap keberadaan tambak udang milik CV. Johan Farm hanya merusak tidak memberikan dampak positif, maka wajib ditutup, “Tegas M. Sapari. (Edo).










